💧 Tafsir Al Misbah Surat Al Kahfi
KajianTafsir Al-Ma'rifah karya Ustadz Dr. Musthafa Umar, Lc. MA membahas Surat Al-Kahfi Ayat 50-51.وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا
AlMisbah merupakan tafsir Al Quran lengkap 30 juz pertama dalam 30 tahun pertama yang ditulis oleh ahli tafsir terkemuka Indonesia. Keindonesiaan penulis memberi warna menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khazanah pemahaman dan penghayatan kita terhadap rahasia makna ayat-ayat Allah. Muhammad Quraish Shihab, Lelaki yang
PengantarAwal Tafsir Surat Al-Kahfi: Kandungan Inti dan Alasan Ayat Ini Diturunkan. Ustadz Ahong 3 Januari 2020 9004. Al-Kahf dalam bahasa Arab berarti 'gua'. Ibnu Manzhur dalam Lisanul 'Arab menyebutkan bahwa al-kahf itu lebih besar daripada al-ghar yang juga bermakna 'gua'. Surat al-Kahfi merupakan salah satu surat al-Qur'an
TafsirSurat Al-Kahfi Ayat 60-61: Kisah Nabi Musa Mencari Orang Saleh yang Lebih Pintar Darinya Ustadz Ahong 25 Februari 2020 6970 Ayat 62 hingga 82 surat al-Kahfi ini akan bercerita mengenai kisah Nabi Musa dan asisten pribadinya menemui orang saleh yang pengetahuannya lebih luas dari Nabi Musa.
Dalamsurat al-Kahfi Allâh Azza wa Jalla menyampaikan salah satu kisah kehidupan masa lalu. Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 9 ini dikisahkan bahwa beberapa pemuda itu pergi ke sebuah gua untuk melindungi keimanannya dari Raja Decyanus. Ashabul Kahfi adalah kisah tujuh pemuda yang tertidur di dalam gua selama 309 tahun.
Usulal-Tarbiyyah al-Islamiyyah wa Asalibuha fi al-Bait wa al- Madrasah wa al-Mujtama', Dimasyq; Dar al-Fikr, t.th. Tharaba, Fahim. "Metodologi Pengembangan Ilmu Pendidikan Islam Persfektif Al-Qur'an Surat al-Fushilat Ayat 53" Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan 17, no. 1, Januari - Juni 2019.
SuratAl-Kahf Ayat 75. ۞ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا Tafsir Quraish Shihab Diskusi (Khidhir berkata, "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku)" hal ini sebagai teguran yang kedua bagimu di samping
hlm643 644 32 Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al Mahally dan Syekh Jalaluddin Abd. Hlm 643 644 32 jalaluddin muhammad bin ahmad al. School Al-Sirat Degree College; Course Title ACC 3003; Uploaded By GeneralArt7158. Pages 15 This preview shows page 8 - 10 out of 15 pages.
TafsirSurat Al-Kahfi Ayat-62. 62. فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا. fa lammā jāwazā qāla lifatāhu ātinā gadā`anā laqad laqīnā min safarinā hāżā naṣabā. 62.
. Tafsir Al Qur’an Surat Al Kahfi Ayat yang ke 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, dan tentang kisah Nabi Musa beserta muridnya untuk mencari orang yang lebih dalam ilmunya; Nabi Khidir. Tindakan-tindakan Nabi Khidir ketika bersama Nabi Musa mencabuti papan dan melubangi perahu sehingga penumpangnya tenggelam, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Lalu menerangkan juga tentang faedah dan hikmah dari cerita Musa dan Khidir Khidir biasa disebut juga dengan Khadir atau Khaidhir adalah Nabi misterius yang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada Nabi Musa. Baca juga Tafsir Al Kahfi Ayat 47-59 Ayat 60-64 Kisah Nabi Musa alaihis salam bersama Khidir, dan di sana terdapat keutamaan mengadakan perjalanan jauh untuk mencari ilmu serta memikul kesulitannya serta bersikap tawadhu’ ketika berbicara dengan para ulama. وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا ٦٠ فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا ٦١ فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا ٦٢ قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا ٦٣قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا ٦٤ Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 60-64 60. [1]Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya[2], “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua laut[3]; atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun.” 61. Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya[4], lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62. Maka ketika mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.” 63. Muridnya menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” 64. Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari[5].” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ayat 65-74 Tindakan yang dilakukan Khidir dan sanggahan Nabi Musa alaihis salam terhadapnya. فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا ٦٥ قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا ٦٦ قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ٦٧ وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا ٦٨ قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا ٦٩ قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا ٧٠ فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا ٧١قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ٧٢ قَالَ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا ٧٣ فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا ٧٤ Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 65-74 65. [6]Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami[7], yang telah Kami berikan rahmat[8] kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. 66. Musa berkata kepadanya[9], “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk[10]?” 67. Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku[11]. 68. Dan bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu[12]?” 69. Musa berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun[13]. 70. Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun[14], sampai aku menerangkannya kepadamu[15].” 71. Maka berjalanlah keduanya[16], hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia Khidir melubanginya[17]. Musa berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” 72. Dia Khidir berkata, “Bukankah sudah kukatakan, “Bahwa engkau tidak mampu sabar bersamaku.” 73. Musa berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku[18] dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku[19].” 74. Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka dia Khidir membunuhnya[20]. Dia Musa berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih[21], bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.” [1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan tentang Nabi-Nya, yaitu Musa alaihis salam, rasa cintanya kepada kebaikan dan mencari ilmu. [2] Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa alaihis salam itu adalah Yusya bin Nun, di mana ia menemani Nabi Musa alaihis salam, melayaninya dan mengambil ilmu darinya. [3] Di mana di tempat itu ada seorang hamba Allah yang dalam ilmunya. [4] Yusya’ lupa membawa ikannya ketika berangkat, dan Musa lupa mengingatkannya. Ikan itu dibawa sebagai perbekalan keduanya dan untuk dimakan saat lapar, namun sebelumnya telah diberitahukan kepada Musa, bahwa apabila ia kehilangan ikan itu, maka di sanalah hamba itu berada. Para mufassir menerangkan, “Sesungguhnya ikan yang menjadi perbekalan keduanya, ketika mereka sampai ke tempat itu, ikan itu tersiram air laut dan terbawa ke laut dengan izin Allah, lalu menjadi hidup bersama ikan-ikan yang lain.” [5] Karena itu pertanda adanya orang yang kita cari di sana. [6] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa pernah berdiri khutbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Ia menjawab, “Saya orang yang paling dalam ilmunya.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala kemudian mewahyukan kepadanya yang isinya, “Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu.” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara menemuinya?” Lalu dikatakan kepadanya, “Bawalah ikan dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.” Musa pun berangkat bersama muridnya Yusya’ bin Nun dengan membawa ikan dalam keranjang, sehingga ketika mereka berdua berada di sebuah batu besar, keduanya merebahkan kepala dan tidur di atas batu itu, lalu ikan itu lepas dari keranjang dan mengambil jalannya ke laut dan cara perginya membuat Musa dan muridnya merasa aneh. Keduanya kemudian pergi pada sisa malam yang masih ada hingga tiba pagi hari. Ketika pagi harinya, Musa berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini,” dan Musa tidak merasakan keletihan kecuali setelah melalui tempat yang diperintahkan untuk didatangi. Muridnya kemudian berkata kepadanya, “Tahukah engkau ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan,” Musa berkata, “”Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Ketika mereka sampai di batu besar itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menutup dirinya dengan kain atau tertutup dengan kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Lalu Khidir berkata, “Dari mana ada salam di negerimu?” Musa berkata, “Aku Musa.” Khidir berkata, “Apakah Musa Nabi Bani Israil?” Ia menjawab, “Ya.” Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” Khidir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, wahai Musa?” Sesungguhnya aku berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya, demikian pula engkau berada di atas ilmu yang Dia ajarkan kepadamu dan aku tidak mengetahuinya.” Musa berkata, “Engkau akan mendapatiku insya Allah sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan mendurhakai perintahmu.” Keduanya pun pergi berjalan di pinggir laut, sedang mereka berdua tidak memiliki perahu, lalu ada sebuah perahu yang melintasi mereka berdua, lalu keduanya berbicara dengan penumpangnya agar mengangkutkan mereka berdua, dan ternyata diketahui oleh para penumpangnya bahwa yang meminta itu Khidir, maka mereka pun mengangkut keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung lalu turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali atau dua kali patukan ke laut. Khidir berkata, “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu yang berasal dari Allah kecuali seperti patukan burung ini ke laut yakni tidak ada apa-apanya di hadapan ilmu Allah, lalu Khidir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian dicabutnya.” Melihat keadaan itu Musa berkata, “Orang yang telah membawa kita tanpa meminta imbalan, namun malah engkau lubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam.” Khidir berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” Musa berkata, “Janganlah engkau hukum aku karena lupaku dan janganlah engkau bebankan aku perkara yang sulit.” Untuk yang pertama Musa lupa, maka keduanya pun pergi, tiba-tiba ada seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Khidir memegang kepalanya dari atas, lalu menarik kepalanya dengan tangannya. Musa berkata, “Apakah engkau hendak membunuh seorang jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain.” Khidir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.” –Ibnu Uyainah rawi hadits ini berkata, “Ini lebih berat.” Keduanya pun berjalan, sehingga ketika mereka sampai ke penduduk suatu kampung, keduanya meminta agar penduduknya menjamu mereka namun tidak diberi. Keduanya pun mendapatkan sebuah dinding yang hampir roboh, maka Khidir menegakkannya, Khidir melakukannya dengan tangannya. Musa pun berkata, “Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.” Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Musa, kita senang sekali jika ia bersabar sehingga ia menceritakan kepada kita tentang perkara keduanya.” Al Qurthubi berkata, “Dalam kisah Musa dan Khidir terdapat beberapa faedah, di antaranya bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berbuat dalam kerajaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan menetapkan untuk makhluk-Nya dengan apa yang Dia kehendaki yang bermanfaat atau bermadharrat, sehingga tidak ada ruang bagi akal dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya dan menyalahkan hukum-hukumnya, bahkan wajib bagi manusia untuk bersikap ridha dan menerima, karena pencapaian akal untuk memperoleh rahasia rububiyyah Allah sangat terbatas, oleh karennya tidak bisa ditujukan kepada hukum-Nya, “Mengapa begini?” dan “Bagaimana bisa begitu?”, sebagaimana tidak bisa ditujukan terhadap keberadaan dirinya, “Di mana dan dari mana?”, dan bahwa akal tidak sanggup memandang indah dan buruk, dan bahwa semua itu kembalinya kepada syara’, sehingga apa yang dikatakan indah dengan adanya pujian terhadapnya, maka hal itu adalah indah, dan apa yang dikatakan jelek, maka hal itu adalah jelek. Demikian pula termasuk faedahnya bahwa Allah Ta’ala dalam ketetapan-Nya memiliki hikmah-hikmah dan rahasia pada maslahat yang tersembunyi yang memang dipandang. Semua itu dengan kehendak dan iradah-Nya tanpa ada kewajiban atas-Nya dan tanpa ada hukum akal yang tertuju kepadanya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang berhati-hati dari sikap i’tiradh mempersoalkan atau membantah karena ujung-ujungnya adalah kegagalan.” Beliau juga berkata, “Kami pun di sini ingin mengingatkan dua buah kekeliruan. Kesalahan Yang pertama, persangkaan sebagian orang-orang jahil, bahwa Khidir lebih utama daripada Musa karena berpegang dengan kisah ini dan kandungannya. Hal ini tidak lain muncul dari orang yang pandangannya sempit terhadap kisah ini dan tidak melihat kelebihan yang Allah berikan kepada Musa alaihis salam berupa kerasulan, mendengar langsung firman Allah, diberikan-Nya kitab Taurat yang di dalamnya tedapat pengetahuan tentang segala hal, dan sesungguhnya para nabi Bani Israil masuk di bawah syari’atnya dan pembicaraan tertuju kepada mereka dengan hukum kenabiannya bahkan Isa pun juga. Dalil-dalilnya dalam Al Qur’an banyak. Cukuplah di antaranya firman Allah Ta’ala, “Wahai Musa! Sesungguhnya aku memilih melebihkan kamu dari manusia yang lain pada masamu untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku.” terj. Al A’raaf 144. Al Qurthubi juga berkata, “Khidir meskipun nabi namun bukan rasul berdasarkan kesepakatan. Keadaan Khidir itu seperti salah seorang nabi di antara nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Musa yang paling utama di antara mereka. Jika kita katakan, bahwa Khidir bukan nabi, tetapi wali, maka nabi lebih utama daripada wali. Hal itu merupakan perkara yang jelas berdasarkan akal dan naql wahyu. Orang yang berpendapat sebaliknya yakni nabi lebih utama daripada wali adalah kafir karena hal tersebut sudah maklum sekali dari syara’. Beliau juga berkata, “Kisah Khidir bersama Musa adalah ujian bagi Musa agar diambil pelajaran. Kesalahan yang kedua, sebagian orang Zindiq menempuh jalan yang sebenarnya merobohkan hukum-hukum syari’at. Mereka berkata, “Sesungguhnya dari kisah Musa dan Kadhir dapat diambil kesimpulan, bahwa hukum-hukum syari’at yang umum hanya khusus bagi orang-orang awam dan orang-orang bodoh, adapun para wali dan orang-orang khusus, maka mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, bahkan yang diinginkan dari mereka adalah apa yang terjadi dalam hati mereka, dan mereka dihukumi berdasarkan apa yang kuat dalam lintasan hati mereka karena bersihnya hati mereka dari kekotoran dan kosongnya dari penggantian. Nampak kepada mereka ilmu-ilmu ilahi dan hakikat rabbani. Mereka pun mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengetahui hukum-hukum juz’iyyah satuan sehingga tidak butuh teradap hukum-hukum syari’at secara keseluruhan sebagaimana sesuai dengan Khidir, di mana Beliau tidak butuh kepada ilmu-ilmu yang nampak baginya yang ada pada Musa, dan diperkuat oleh hadits masyhur, “Bertanyalah kepada hatimu meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.” Terhadap perakatan ini, Al Qurthubi berkata, “Perkataan ini merupakan perbuatan zindiq dan kekafiran, karena mengingkari syari’at yang maklum, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memberlakukan ketetapan-Nya dan kalimat-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui kecuali melalui para rasul yang menjadi perantara antara Dia dengan makhluk-Nya, di mana rasul-rasul tersebut menerangkan syari’at dan hukum-hukum-Nya…dst.” Hadits di atas juga memberikan faedah kepada kita agar tidak tergesa-gesa mengingkari dalam masalah yang masih mengandung kemungkinan lihat penjelasan hadits di atas lebih lengkapnya di Fath-hul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani. [7] Yaitu Khidir. [8] Yakni rahmat kenabian menurut suatu pendapat ulama, sedangkan menurut pendapat mayoritas ulama bahwa rahmat di sini adalah rahmat kewalian, yakni ia salah seorang wali di antara wali-wali-Nya. [9] Musa berkata kepadanya secara sopan, bermusyawarah dan memberitahukan keinginannya. [10] Nabi Musa alaihis salam meminta kepada Khidir agar diajarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadanya karena menambah ilmu itu disyari’atkan. [11] Yakni karena engkau akan akan melihat perkara-perkara yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya, di mana perkara tersebut zahirkelihatannya mungkar, namun sesungguhnya tidak. [12] Yakni engkau belum mengetahui maksud dan akhirnya. [13] Disebutkan kata “Insya Allah” karena Nabi Musa alaihis salam belum yakin terhadap kemampuan dirinya, dan seperti inilah kebiasaan para nabi dan para wali, di mana mereka tidak merasa yakin terhadap diri mereka sedetik pun. [14] Yang aku lakukan dan bersabarlah; jangan dulu mengingkari. [15] Yakni alasannya. Maka Nabi Musa menerima syaratnya karena memperhatikan adab murid terhadap guru. [16] Di tepi pantai. [17] Dengan mencabut salah satu papannya, lalu menambalnya. [18] Untuk tunduk menerima dengan tidak mengingkari. [19] Yakni pergaulilah aku dengan sikap maaf dan memudahkan. [20] Dengan menarik kepalanya dari atas. [21] Karena anak itu belum baligh. Tags Tafsir Lengkap Al Quran Online Indonesia, Surat Al Kahfi, Nabi Khidir, Terjemahan Dan Arti Ayat Al Quran Digital, Penjelasan dan Keterangan, Kandungan, Asbabun Nuzul, Download Tafsir Al Quran, Footnote atau catatan kaki.
Dimulai dari menit dan detik —-0202 Mari kita mulai, Ayat 100 sampai 110 ini, penutup surah Al Kahfi. Disurah ini telah diceriterakan, antara lain, kisah Nabi Musa dan Khidir, ada nilai-nilai disitu. Di surat ini juga ada kisah Zulkarnain, ada nilai-nilai disana seperti misalnya bagaimana seseorang dalam mengikuti tuntunan tuhan dalam meraih sukses, ada faktor faktor, harus dipelajari faktor faktor itu dan harus diikuti. Ada disini uraian tentang bagaimana seorang pemimpin, berlaku adil dan tegas. Disini ada uraian bagaimana seseorang sudah memiliki kecukupan, tidak lagi mengambil upah atau imbalan dari orang-orang miskin. Ada orang yang ngambil imbalan, yang berlaku aniaya, lebih-lebih kalau orang yang dihadapinya itu orang yang bodoh. Disini ada nilai nilai bahwa, seorang yang pandai, berkuasa, mampu, tidak usah ambil upah dari orang lemah, bangunkan dia bangunan yang lebih baik dari apa yang diharapkan, tentu saja tidak semua orang bisa melaksanakan ini, atau mau melakukan ini. Nah , yang melakukan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang disebut dalam surah ini, itu terancam neraka. Maka uraian disini , antara lain , berbicara tentang neraka. Ayat kita menyatakan, أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِْ وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِّلْكَافِرِينَ عَرْضًا “Kami tampakkan, ketika orang bangkit dari kuburnya, Allah menampakkan ketika itu untuk orang-orang kafir neraka jahannam” Jahannam , apa artinya jahannam? Jahannam itu terambil dari akar kata, dari segi bahasa, yang berarti bermuka kusut, cemberut. Neraka itu digambarkan, kalau ketemu orang kafir, terus cemberut, tidak mengucapkan selamat datang. Itu dipaparkan kepada orang kafir dengan pemaparan yang sangat jelas. Orang-orang kafir yang dimaksud disini ; kita lihat , kemarin kita bicara tentang orang-orang kafir, yaitu orang yang matanya, dimatanya ada penutup , sehingga tidak mengingatkan. Siapapun yang lengah, tidak menyadari tentang wujud Tuhan , itu dinamai kafir. Dan orang-orang kafir itu , yang dipaparkan kepada mereka neraka adalah orang-orang yang tidak menggunakan pendengarannya, diberi nasehat ngga mau, ngga mau dengar, diberi petunjuk, “ini lho peristiwa begini, ini ada pengalaman”, dia abaikan itu semuanya. Baru dikatakan , “Apakah orang – orang kafir yang demikian itu halnya, mengambil menjadikan hamba-hamba – Ku sebagai Tuhan- Tuhan ?” Saya beri contoh, dalam keyakinan kita ummat islam, Tuhan itu maha esa, tidak ada Tuhan selain dia, kalau saya menyembah Nabi Muhammad boleh ngga? Ada orang – orang yang menyembah hamba-hamba Allah menduga itu bisa membantu mereka. Ada orang menyembah Nabi Isa, iya kan ? itu Nabi Isa hamba Allah yang taat. Tetapi , kalaupun anda menyembah hamba Allah yang taat, sehingga anda mengikutinya dalam ketaatan , tetapi dia yang anda sembah, itu tidak diterima Allah swt. أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِن دُونِي أَوْلِيَاءَ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا “………………………………………………………………….., Sesungguhnya kami telah menyiapkan jahannam” , tadi, neraka jahannam, “untuk orang-orang kafir, sebagai hidangan selamat datang” Nuzula itu hidangan selamat datangnya , kalau hidangan selamat datangnya sudah jahannam, apa hidangan main core-nya ? itu …iya kan ? saya kira kita lanjutkan nanti……… break Baik, baru disini, ayat berikut ini menyatakan demikian, “Maukah kamu mendegar kalau Aku menyampaikan kepadamu, sesuatu yang penting dalam kehidupan kamu “ “Maukah kamu mendengar apabila Ku-sampaikan tentang orang-orang yang sangat merugi, tetapi dia kira dia beruntung….” هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالً “Maukah kamu mendengar apabila Ku-sampaikan kepadamu orang-orang yang sangat merugi amal-amalnya, karya-karyanya, mereka itu adalah yang usahanya buruk, tetapi dia menduga bahwa itu baik” itu paling rugi, Kalau anda melakukan suatu kegiatan , yang anda tahu itu buruk, anda tidak semerugi orang yang melakukan kegiatan yang buruk, tapi disangkanya baik. Jadi, dia mempunyai harapan, tapi ternyata harapannya tidak terpenuhi, itu orang yang paling rugi. Itu begini, salah satu rincian dari ini, ada satu orang misalnya korupsi, dia merasa …“wah dapat untung banyak…dapat duit…dapat ini” ….dia meninggal dunia, uang korupsinya diwarisi oleh anaknya, anaknya. Atau diwarisi oleh orang lain. Orang lain ini bersedekah, melakukan kegiatan baik. Siapa yang paling menyesal? yang korupsi. Dia bilang, “saya yang memperoleh uangnya, saya yang terkena siksa, dia itu dia tidak usaha, dia dapat uang, tapi uang itu dia gunakan untuk kebaikan, dia yang dapat untung,” ini orang yang paling menyesal di hari kemudian. Begitu juga, dia sudah kira dia sudah melakukan kebaikan, sudah ini sudah itu. Padahal justru itu merupakan amal keburukan yang pahit فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا “Nanti dihari kemudian , orang yang melakukan kegiatan buruk dan dikiranya baik, dihari kemudian Kami tidak timbang amalnya” Apa maksudnya ? Dihari kemudian nanti, ada timbangan amal. Semua kita, diletakkan. Ini amalnya sekian, amal buruknya sekian. Atau ini sholatnya , ini ada timbangannya. Sholatnya , seimbang ngga dengan timbangan? Bisa jadi lebih ya, kalau dia banyak sholat sunnah, bisa jadi kurang. Ada orang-orang yang tidak dilakukan lagi timbangan kepadanya. Saya beri contohnya, Anda mau beli jeruk …sampai dipasar …dalam satu keranjang..penjual katakan….“ini jeruk belilah”.. saya berkata...”saya ngga mau” … “kita timbanggg….” “ngga perlu ditimbang…” Perlu ngga anda timbang untuk mengambil jeruk yang buruk ? ……tidak perlu ditimbang ya… Ada orang-orang, punya amal , Tuhan sudah tidak timbang lagi …tidak perlu ditimbang……….sudah jelas buruknya …sudah terlihat itu … Ada orang-orang, nanti dihari kemudian yang tidak mengalami… “Itulah balasan bagi orang-orang kafir, dan yang menjadikan , tanda tanda kebesaran tuhan , dan rasul rasulnya sebagai olok olok” ayat 106 Ini orang-orang musyrik di Mekkah, sampai sekarang ada yang begitu, macam-macam tuh orang-orang yang mengolok-olok orang-orang baik dan lain-lain sebagianya… —————– Itu ceritanya orang kafir,,,,kita lihat yang mukmin… إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, maka mereka mendapat hidangan pembukaan berupa surga firdaus” Beberapa episode yang lalu kita katakan, kebiasaan Alquran menghidangkan dua hal yang bertolak belakang. kafir…mukmin.. sorga…neraka.. harta…jiwa..dan lain lain sebagainya…dihidangkan… Disini dihidangkan mereka akan mendapatkan sorga yang baik. Saya ingin garisbawahi... Apa yang dinamai amal ? Kan, kecuali yang beramal sholeh Amal itu adalah, menggunakan daya yang anda miliki, daya manusia itu, bisa daya fikir, bisa daya fisik, bisa daya qalbu, bisa daya hidup. Ketika anda mendesain, menggunakan fikiran atau tidak ?…..anda beramal. Ketika anda mengangkat sesuatu, anda menggunakan daya atau tidak? daya apa ? daya fisik….anda beramal…iya kan?. Ketika anda menghayalkan sesuatu, beramal atau tidak ? beramal, menggunakan daya qalbu. Ketika anda menjaga perasaan orang lain supaya tidak tersinggung, itu amal. Orang yang merampok, beramal atau tidak ? haa…tidak usah ragu…dia beramal. Karena itu alquran menyatakan beramal sholeh. Ada sholehnya. Ada ngga designer , yang mendesain baju buat perempuan yang terbuka, terbuka auratnya ? busana muslimah pun bisa jadi, busananya muslim tapi melanggar agama. Dia beramal , tapi bukan amal sholeh. Jadi amal sholeh itu dengan menggunakan daya, baik daya fikir, daya fisik, daya qalbu, daya hidup, tetapi penggunaannya itu yang bermanfaat, dan sesuai dengan nilai nilai agama. Jadi tidak harus saya beramal itu lantas saya harus mengaji terusss. Yang penting, yang wajib saya laksanakan, sisanya anda berfikir untuk jadi designer. Ooo..itu amal sholeh…iya kan?. Saya sudah sholat lima waktu, ini ini ini … saya melakukan kegiatan mengasuh anak saya, mengasuh anak itu amal sholeh…. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا “……………………………………………………………mereka kekal didalamnya, dan mereka tidak mau beranjak dari tempat mereka “ break Tadi kita katakan bahwa hidangan pembuka, hidangan selamat datang untuk yang beriman adalah surga firdaus. Ada yang mengartikan surga firdaus itu pertengahan, jadi bukan puncaknya, bukan juga yang terendah. Ada yang mengartikan surga firdaus itu, sorga yang didalamnya ada kebun kebun korma . Yang penting, yang ingin saya katakan, yang penting adalah firmannya pada ayat 108, mereka tidak ingin beranjak pindah dari tempatnya. Jadi, walaupun mereka dipertengahan sorga , dia tidak mau lagi…tidak usah saya naik ketempat yang lebih tinggi. Saya sering beri contoh…ibu saya….waktu masih hidup, Kita belikan dia mobil …sederhana….setelah kami punya uang….alhamdulillah…mau diganti.. “Pindah rumah bu ….pakai mobil baru bu…yang ini…” “ah ndak usah….saya sudah senang disini”...puas ya??…walaupun ada yang lebih bagus. Orang yang masuk sorga begitu, betapapun rendah tingkat anda di sorga, anda berkata “saya sudah puas…saya tidak mau lagi ketempat yang lebih tinggi…” oke… “Sampaikanlah wahai Nabi Muhammad bahwa seandainya laut ini menjadi tinta untuk menulis ketetapan-ketetapan Allah wahyu-wahyu Tuhanku, maka akan habis air laut itu, sebelum habis ketetapan-ketetapan Allah….sebelum habis kandungan wahyu-wahyu Allah, walaupun ditambah lagi dengan laut sesudah laut yang habis” Jadi , ilmu Tuhan itu tak bertepi, tidak ada habisnya , itu sebabnya Nabi Muhammad juga disuruh , “berdoalah agar ditambah ilmu”. Setiap orang yang berilmu , pasti ada orang yang lebih pandai dari dia. Jangan pernah……ingat ceritanya Nabi Musa ….kan dikatakan…ndaa….tidak bertepi ilmu tuhan… “Sampaikan juga Nabi Muhammad, bahwa Aku ini adalah manusia yang seperti kamu, yang mendapat wahyu tidak seperti kamu,……………. “ Jadi, manusia seperti kamu, saya punya mata di depan , tidak punya dua mata dibelakang, saya bisa marah, saya lapar, saya kawin, seperti kamu …tetapi kita berbeda….kamu tidak dapat wahyu…tapi saya dapat wahyu .. “………………….Inti dari wahyu yang disampaikan kepadaku itu, adalah bahwa tidak ada tuhan selain daripada tuhan yang maha esa. Siapa yang hendak menginginkan pertemuan dengan Tuhannya pertemuan yang mesra , maka hendaklah dia beramal dengan amal yang sholeh.” haaa…amal lagi….amal…yang sholeh…. “…………dan jangan mempersekutukan sesuatupun dengan tuhan” saya kira itu ayat itu. sampai dengan durasi video pada menit dan detik —-> 1952
loading...Tidak ada yang bisa memastikan siapa saja mereka yang disebut sebagai Ash?ba Al-Kahfi ini, bahkan jumlah merekapun, hanya Allah SWT yang tau pastinya. Foto/Ilustrasi Dok SINDOnews Kisah pemuda di dalam goa atau Ashāba Al-Kahfi adalah salah satu kisah paling terkenal dalam Al-Quran . Kisah ini dituturkan di hampir semua agama Samawi. Menariknya, tidak ada yang bisa memastikan siapa saja mereka yang disebut sebagai Ashāba Al-Kahfi ini, bahkan jumlah merekapun, hanya Allah SWT yang tau pastinya. Allah SWT menceritakan kisah mereka cukup panjang dalam Al Quran, Surat Al-Kahf i ayat 9-26 18 ayat. Baca Juga Prof Dr Qurash Shihab dalam Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran menjelaskan Surat Al Kahfi adalah salah satu surat yang juga sangat istimewa dalam Al Quran. Salah satunya, surat ini berada dipertengahan Al Quran, yakni akhir dari juz XV dan awal juz XVI. Tak kalah istimewanya, hampir seluruh isi surat ini berisi kisah luar biasa, dari sosok-sosok tanpa nama di dalam Al Quran. Pada awalnya terdapat kisah Ashāba Al-Kahfi, sesudahnya disebutkan kisah dua pemilik kebun, selanjutnya terdapat isyarat tentang kisah Adam as. dan iblis. Pada pertengahan surah, diuraikan kisah Nabi Musa as. dengan seorang hamba Allah yang saleh Khidir, dan pada akhirnya adalah kisah Dzū yang Allah SWT ceritakan dalam surat ini menjadi cerita besar bagi manusia, namun sangat misterius informasinya. Terkait hal ini, kiranya tepat apa yang Muhammad Iqbal katakan dalam Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam, “Al Quran adalah sebuah kitab yang menekankan perbuatan daripada pemikiran.”Allah SWT tidak menjelaskan rincian informasi mengenai identitas tokoh tersebut. Melainkan memaparkan secara menyeluruh sejumlah hikmah dan tanda-tanda Kebesaran-Nya dalam peristiwa-peristiwa yang dialami oleh sosok-sosok tersebut. Seraya Dia ingin mengatakan bahwa tidak penting identitas, waktu, tempat, nasab dan stigma masyarakat tentang mereka, yang terpenting sejauh apa kualitas iman, dan nilai perbuatan yang sudah mereka beberapa “pemuda anonym” yang dikenal dengan Ashāba Al-Kahfi, merupakan salah satu kisah yang paling memukau masyarakat pada masanya, dan mungkin juga hingga saat ini. Bayangkan, mereka dikatakan tertidur di dalam Goa selama ratusan tahun. Mereka melarikan diri demi mempertahankan imannya dari satu rezim yang kejam, hingga menemukan sebuah Goa. Di tempat tersebut, mereka berdoa, lalu tertidur. Setelah ratusan tahun mereka terbangun, dan mengira mereka hanya tidur sebentar saja. Baca Juga Siapapun tentu akan berdecak kagum akan pengalaman yang mereka jalani, dan menjadi peristiwa yang demikian menghebohkan. Tapi bagi Allah SWT, kisah mereka sebenarnya tidaklah luar biasa. Ketika mengawali kisah Ashāba Al-Kahfi, Allah SWT berfirmanأَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَٰتِنَا عَجَبًاAtau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan yang mempunyai raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? QS Al-Kahfi 9 Ketika menafsirkan ayat ini, Quraish Shihab menjelaskan tentang begitu banyaknya tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang berseliweran di sekitar kita. Peristiwa yang dialami oleh Ashhab al-Kahf/para Penghuni Gua tidaklah lebih menakjubkan dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang lain. Hanya saja tanda-tanda yang lain telah seringkali kita saksikan, sehingga keajaiban dan kekaguman kita menjadi berkurang atau sirna. Bahkan keberadaan diri kita sendiri, dari sebelumnya tidak ada sama sekali, hingga menjadi seperti sekarang, merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang sangat luar biasa. Munculnya keinginan manusia terhadap keajaiban-keajaiban kecil terjadi karena mereka senantiasa luput dari kesadaran akan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang demikian banyak tafsir atas tanda kebesaran Allah SWT yang terdapat dalam ayat ini, Quraish Shibab mengutip pendapat Thahir Ibn Asyur yang menilai ayat ini bagaikan berkata, “Apakah engkau menduga bahwa peristiwa yang dialami Ashāba Al-Kahfi merupakan kisah ajaib?
tafsir al misbah surat al kahfi